11/8/2017,   Oleh  Dimas Jarot Bayu
GIIAS 2017
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meninjau stand pamer mobil tipe Hybrid Mercedes Benz pada acara GIIAS 2017 di Tangerang, Banten, Kamis, (10/8). Arief Kamaludin|KATADATA

Katadata - Mercedes Benz masih enggan memasarkan mobil beremisi rendah atau low cost emission vehicle (LCEV) di Indonesia. Alasannya, belum ada regulasi yang jelas terkait LCEV baik yang bertipe mobil hybrid maupun mobil listrik.

Deputy Director Sales Operation & Product Management Mercedes Benz Cars, Kariyanto Hardjosoemarto menuturkan, pihaknya masih menunggu regulasi rampung dalam memasarkan mobil LCEV.

Mercedez menanti aturan mengenai skema insentif yang akan diberikan pemerintah kepada produsen mobil LCEV. "Kami menunggu aturan pemerintah yang jelas mengenai skema, misalnya beanya seperti apa, pajaknya seperti apa unntuk kendaraan hybrid," kata Kariyanto saat GIIAS 2017 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (10/8).

(Baca: Mercedes Benz Mulai Rakit Sedan E-Class di Bogor)

Kariyanto mengatakan, Mercedes Benz tak ingin melakukan trial and error terhadap penjualan mobil hybrid. Dia menjelaskan, segala kesiapan terkait regulasi perlu ada agar harga jual yang dikeluarkan Mercedes Benz jelas.

Selain itu, kesiapan juga diperlukan agar Mercedes Benz bisa memastikan layanan purna jual dan personel ketika memasarkan mobil LCEV. "Oleh karena itu kami enggak mau coba-coba. Jadi kami tunggu begitu aturan pemerintah jelas," ucap Kariyanto.

Mercedes Benz pada GIIAS 2017 ini memperkenalkan mobil hybrid E 350e Plug in Hybrid. Mobil konsep ini menggunakan baterai untuk motor listrik berjenis lithium-ion dengan total kapasitas 6,2 kWh.

Jika motor listrik yang bekerja, maka kendaraan ini dapat melaju hingga 33 km dengan kecepatan maksimal 130 km/jam. Namun jika berganti mesin bensin, kecepatan maksimalnya mencapai 210 kpj.

Mercedes E 350e dibekali mesin M275 DE 20 AL 2,0 yang digunakan di model C 350e. Jantung pacu itu diklaim mampu menghasilkan tenaga 208 hp dan torsi 350 Nm. Sementara, motor listriknya bertenaga 88 hp dan torsi 440 Nm.

(Baca: Mitsubishi Luncurkan Produk Baru dengan Komponen Lokal 70%)

Pemerintah akan mengeluarkan aturan mengenai mobil LCEV dalam waktu dekat. Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyatakan pihaknya akan segera bertemu dengan Kementerian Keuangan membahas aturan tersebut. "Regulasinya akan segera di terbitkan. Kami akan segera bicara dengan Kemenkeu," kata Airlangga.

Aturan yang akan dikeluarkan berupa Peraturan Presiden (Perpres) dan saat ini Kementerian Perindustrian sedang menyusun drafnya.

Airlangga mengatakan Perpres ini juga akan menyempurnakan kebijakan Kementerian Perindustrian yang telah dikeluarkan sebelumnya. Kebijakan tersebut adalah Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 59 Tahun 2010 tentang industri kendaraan bermotor.

(Baca: Mobil Rendah Emisi Akan Kuasai 20% Pasar Nasional pada 2025)

Salah satu poin utama yang ada dalam Perpres ini dalam mengejar target 2025, adalah pemberian insentif bagi kendaraan-kendaraan LCEV. Airlangga menyebutkan pemerintah akan memberikan bea masuk dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) kendaraan LCEV, lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.

Pemerintah menargetkan sebanyak 400 ribu unit kendaraan LCEV memasuki pasar Indonesia pada 2025 mendatang. Angka tersebut sebesar 20 persen dari jumlah produksi unit kendaraan setiap tahunnya. Airlangga menuturkan, kendaraan LCEV merupakan modal bagi Indonesia mengurangi penggunaan bahan bakar karbon.